Jumat, 09 Mei 2014
Jumat, 25 April 2014
Mereka yang dinaungi ALLAH
RADAR ISLAM -- Pada hari kiamat, Allah SWT bakal mengumpulkan segenap manusia dari semua generasi di suatu tempat bernama mahsyar. Tempat itu berupa tempat terbuka. Di sana, tak ada satu naungan pun kecuali naungan Allah SWT.
Dalam
hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan pada hari itu matahari akan
berada sedekat-dekatnya dengan manusia. Dengan begitu, mereka dipastikan merasa
kepanasan luar biasa. Keringat mereka bercucuran sangat deras.
Genangan keringat mereka sangat banyak. Ada yang menggenangi mata kaki, lutut, dan pinggang mereka. Bahkan, ada pula yang menenggelamkan mereka. Semua itu bergantung pada amal masing-masing.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat semua manusia berkeringat. Genangan keringat mereka di atas permukaan bumi mencapai tujuh puluh hasta. Dan, akan menggenangi mereka hingga telinga mereka.’’ (HR Bukhari dan Muslim).
Pada hari itu hanya ada tujuh golongan yang berhak atas naungan Allah. Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, “(Terdapat) tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Siapa mereka yang beruntung itu?
Pertama, pemimpin yang adil. Yakni orang yang memimpin rakyatnya dengan amanah dan tidak menghakimi mereka dengan menuruti hawa nafsunya.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’’ (QS An-Nisaa [4] : 58).
Kedua, pemuda yang konsisten beramal kebajikan dalam hidupnya. Yakni yang beruntung mendapatkan taufik dan hidayah Allah sejak usia muda belia. Dia diberi kemudahan untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Dia terhindar dari perbuatan sia-sia, dan tak meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja.
Allah SWT memuji mereka dalam firman-Nya, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.’’ (QS Al-Kahfi [18] : 13).
Ketiga, laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Yakni yang selalu berupaya keras memakmurkan masjid dalam hidupnya.
Allah SWT berfirman, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah [9] : 18).
Keempat, dua orang laki-laki yang saling mencintai atas nama Allah. Mereka berdua berkumpul dan berpisah atas nama-Nya.
Allah berfirman, “Maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjuang di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al-Maidah [5] : 54).
Dari Abu Umamah RA Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa saling mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah maka iman pada dirinya telah sempurna.’’ (HR Abu Dawud dan disahihkan oleh Al-Albani).
Kelima, laki-laki yang manakala diajak mesum oleh wanita jelita dan memiliki kedudukan tinggi dengan tegas dia menolak ajakan semacam itu karena takut akan Allah.
Allah berfirman, “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. Maka, sesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya).’’ (QS An-Naazi’aat [79] : 40-41).
Keenam, laki-laki yang menyedekahkan hartanya dengan ikhlas demi mendapatkan keridaan-Nya semata (diilustrasikan dalam QS Al-Baqarah [2] : 271).
Ketujuh, laki-laki yang hatinya merasa takut kepada Allah. Dengan begitu dia selalu mengingat keberadaan-Nya, menyebut-nyebut nama-Nya, merenungkan kebesaran-Nya, karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Tak jarang hingga berlinang air matanya (dilukiskan dalam QS Al-Maidah [5] : 83).
Semoga kita semua termasuk golongkan yang dinaungi Allah. Amin.
Sumber : Republika.co.id/
Kamis, 17 April 2014
Mendoakan Kebaikan
Bang,
bagaimana tuch ada orang yang ngga sholat tetapi rizki berlimpah, ma'siyat
melulu, maaf bang, sampai berzina tetapi dikantor malah naik pangkatnya,
korupsi malah semakin sukses?
Sahabatku,
dunia ini ujian. Diuji dengan ni'mat bersyukur dengan taat atau tidak, diuji
musibah bersabar taat atau tidak. Kalau pun ma'siyat sukses itu
"istidraj" namanya, azab yang tertunda.
Rasulullah
bersabda, "Bila kamu melihat Allah menganugerahkan kenikmatan kepada
seorang, sementara ia terus dalam ma'siyat, maka
itulah "istidraj". Lalu beliau membaca surah Al An'am 44-45,
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga
apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami
siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus
asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam" (HR Thabrani).
Sekali lagi simak surah Al Fajr ayat 15-16, "Adapun
manusia yang diuji dengan keni'matan dunia, ia mengira Tuhannya memuliakannya,
sedangkan mereka yang diuji dengan kesusahan rizki, ia mengira Tuhannya
menghinakannya. Jangan begitu manusia...".
So mulai saat ini jangan pernah iri hati pada siapapun,
jangan sibuk mengurus mereka yang sukses dalam ma'siyat kecuali mendoakannya
agar meraih hidayah Allah dan ber'da'wah jika mampu. Sibukkanlah pada muhasabah
diri agar kita bukan hanya menjadi hamba yang sabar dari ujianNya tetapi pandai
mensyukuri ni'matNya...aamiin.
Jangan lupa sebelum rehat berwudhu dulu, berdoa, berzikir sampai tertidur dan berazam untuk sholat malam, sahabatku.
Jangan lupa sebelum rehat berwudhu dulu, berdoa, berzikir sampai tertidur dan berazam untuk sholat malam, sahabatku.
Sepucuk Surat Cinta dari Sang Imam
RADAR ISLAM -- Alkisah, ada sebuah keluarga hidup serba
kekurangan di Tanah Arab. Usut punya usut, pemicu kondisi terpuruknya
keluarga tersebut, yaitu sang kepala keluarga, yang bernama Abbad, sangat
pemalas.
Ia tak pernah mau bekerja. Sehari-hari
ia menghabiskan waktu untuk bersantai-santai dan bersenang-senang di rumah.
Terkadang, istrinyalah yang disuruh untuk bekerja membanting tulang demi
keluarganya.
Suatu hari, Imam Abu Hanifah lewat di
depan rumah Abbad. Tampak dari jauh Sang Imam tersebut berjalan ke arah Abbad,
ia pun telah mempersiapkan sebuah skenario agar bisa memperoleh santunan dari
Sang Imam.
Sambil menangis tersedu-sedu, dengan
suara keras Abbad pun mengeluh. “Nasibku sungguh malang sekali. Akulah orang
termalang di dunia ini. Sejak pagi aku dan keluargaku belum makan sesuap nasi
pun. Badanku pun menjadi lemah. Semoga ada orang yang mendengar rintihanku ini
dan memberi kami sedekah,” ujarnya.
Mendengar pengaduan tersebut, Abu
Hanifah pun tersentuh. Ia ingin menolong keluarga malang tersebut, tapi ia ragu
karena tahu gelagat Abbad yang sangat malas bekerja tersebut.
Abu Hanifah pun akhirnya punya ide. Ia
kembali pulang ke rumahnya dan memutuskan untuk membantu keluarga Abbad. Abu
Hanifah mengambil uang dan makanan, lalu dibungkus dengan sebuah kertas. Sebuah
surat untuk Abbad tertulis pada lembaran kertas itu.
Isi surat berbunyi: “Kawan, kau tak
perlu mengeluhkan nasibmu hingga seperti itu. Selalu ingatlah pada kemurahan
Allah dan jangan pernah lelah memohon padanya. Janganlah masuk dalam lembah
keputusasaan, tetaplah berusaha kawan.”
Sesampainya di kediaman Abbad, Abu
Hanifah meletakkan bungkusan beserta surat tersebut tepat di depan rumah.
Sang pemalas pun melihatnya, ia kemudian
mengambil bungkusan tersebut dan bergembira bahwa skenario mengemisnya tadi
berhasil. Surat tersebut dibacanya, tapi tak diperhatikannya lebih lanjut. Dibuang
begitu saja.
Waktu pun berjalan. Suatu hari Abu
Hanifah lewat lagi di rumah Abbad. Ia mengira Abbad telah bertobat, tapi
ternyata dugaannya salah. Ia masih tetap mendengarkan skenario keluhan sang
pemalas tersebut.
Abu Hanifah tak menyerah. Ia merasa sosoknya
sebagai imam yang pandai berdakwah pun diuji. Menurutnya, ini adalah ujian
baginya. Berdakwah di jalan Allah SWT memang terkadang tak mudah.
Sang Imam pun kembali ke rumahnya dan
melakukan hal yang sama, menyiapkan uang, makanan, dan sepucuk surat bagi sang
pemalas tersebut.
Kali ini, ia membuat surat yang lebih
panjang. Tujuannya agar hati Abbad tersentuh dan bertobat. Ia kemudian
meletakkan bungkusan tersebut di jendela rumah Abbad.
Dengan gembira Abbad pun mengambil bungkusan tersebut. Makanan dan uang. Selembar surat tersebut dipegangnya, kemudian dibacanya.
Dengan gembira Abbad pun mengambil bungkusan tersebut. Makanan dan uang. Selembar surat tersebut dipegangnya, kemudian dibacanya.
“Kawan, janganlah memohon seperti itu.
Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Memohon seperti ini setiap hari, itu
berarti Anda malas, berarti Anda telah putus asa pada kebenaran dan kekuasaan
Allah. Sungguh tak ada yang ridha melihat orang malas seperti dirimu, yang tak
mau bekerja untuk keselamatan dirinya,” kata Abu Hanifah dalam surat tersebut.
Tampaknya kali ini isi surat tersebut
sedikit menggugah jiwa Abbad. Ia pun merenungi isi surat Abu Hanifah. Ia
kemudian meneruskan membaca surat itu.
“Kawan, jangan Anda teruskan perbuatan
demikian. Hendaklah Anda bekerja, meski gajinya kecil asalkan halal tak
mengapa. Bekerjalah, jangan hanya berdiam diri di rumah. Hanya Allah yang bisa
memberi rezeki, tetapi rizki tersebut tak mungkin datang dengan sendirinya,
Anda harus mencarinya kawan. Allah tak akan mengabulkan permohonan orang yang
malas bekerja.”
Dada Abbad mulai sesak. Ia merasa ulu
hatinya terkena cambuk. Dadanya sesak dan hampir menangis saat membaca surat
tersebut. Ia pun menghela napas dan melanjutkan membaca surat tersebut.
“Allah tidak akan mengabulkan doa orang
yang berputus asa. Berikhtiarlah segera kawan, carilah pekerjaan yang halal dan
yang membuatmu nyaman. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pekerjaan jika tak
lekas putus asa. Aku akan terus mendoakanmu kawan, agar segera mendapatkan
pekerjaan.”
Bagaikan tersambar petir, selembar surat
tersebut membuat Abbad sadar bahwa kemalasan yang dilakukannya selama ini salah
dan tak akan membebaskannya dari kemiskinan dan kondisi serba kekurangan.
Keesokan harinya, Abbad pun keluar rumah
untuk mencari pekerjaan. Surat itu pun mengubah dirinya. Ia kini semakin tekun
beribadah dan mulai giat bekerja, meski gaji yang diterimanya kecil, tak sebesar
uang dan makanan yang diterimanya kala ia merintih dan mengeluh pada
orang-orang kaya yang melewati rumahnya.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa
tidak ada seorang pun yang memakan makanan yang lebih baik daripada dia memakan
makanan hasil dari kerja kerasnya sendiri.
Abu Hanifah berhasil dalam dakwahnya, meski dilakukannya secara tidak langsung tanpa bertatap muka dan bertutur kata, lewat sepucuk surat.
Abu Hanifah berhasil dalam dakwahnya, meski dilakukannya secara tidak langsung tanpa bertatap muka dan bertutur kata, lewat sepucuk surat.
Sumber : Republika.co.id
Selasa, 15 April 2014
Berhenti Makan Sebelum Kenyang
Diceritakan, iblis la’natullah datang
kepada Yahya bin Zakaria. Yahya bin Zakaria bertanya kepada iblis, “Apakah
kamu memperoleh dariku sesuatu?”
Iblis menjawab, “Tidak
kecuali jika didatangkan kepadamu makanan pada malam hari kemudian aku
membuatmu bernafsu sehingga kamu makan dengan sangat kenyang kemudian kamu
tertidur.”
Yahya pun berkata, “Demi
Allah SWT saya tidak akan makan sampai kekenyangan untuk selamanya.”
Iblis juga berkata, “Demi
Allah selamanya aku akan menyuruh anak Adam supaya makan dengan sangat kenyang.”
Kisah yang dinukil dari
kitab Madaarijus Salikin di atas, memberikan pelajaran penting
bagi kita saat kita makan.
Yakni, hendaknya kita
berhati-hati saat kita makan. Jangan sampai kita terbujuk rayu iblis yang
membuat kita bernafsu untuk melahap makanan sampai kita kekenyangan.
Bila hal ini terjadi
bukan hanya akan mengganggu pencernaan dan kesehatan kita, juga menjadikan diri
kita dikuasai iblis. Sebab, perut yang kenyang menjadikan aliran darah semakin
terbuka dan membuat iblis leluasa masuk dan menguasai diri kita.
Karena sesungguhnya,
iblis itu berjalan di aliran darah manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
setan itu berjalan pada anak Adam mengikuti aliran darah.” (Muttafaqun
‘alaih). Akibatnya, menjadikan perut kita sakit.
Selain itu juga membuat
kita lalai beribadah kepada Allah SWT. Bahkan, dapat menjerumuskan kita
pada perbuatan maksiat.
Dalam Alquran surah
Thaahaa (20) ayat 18, Allah berfirman,’’Makanlah di antara rezeki yang baik
yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang
menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku,
maka sesungguhnya binasalah dia.’’
Sebagai seorang Muslim,
hendaknya kita menjaga diri dari kekenyangan saat kita makan karena makan
sampai kekenyangan bukanlah perilaku seorang Muslim.
Umat Islam adalah
umat yang tidak makan kalau tidak lapar dan tidaklah makan sampai kekenyangan.
Rasulullah bersabda,
“Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali lapar, dan jika kami makan maka kami
tidak sampai kekenyangan.”
Makan sampai kekenyangan
merupakan hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab, kekenyangan
merupakan bagian dari perbuatan yang melampaui batas.
Dalam Alquran surah
Al-A’raaf (7) ayat 31, Allah berfirman, “Makan dan minumlah, dan janganlah
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.”
Dalam ajaran Islam,
makan dan minum itu sebagai sarana, bukanlah tujuan. Islam mengajarkan, makan
dan minum bertujuan menjaga kesehatan badannya. Sebab, dengan badan sehat, umat
Islam bisa beribadah kepada Allah secara maksimal.
Umat Islam tidak makan
dan minum karena makanan dan minuman serta syahwat keduanya saja. Ia tidak
lapar maka ia tidak makan dan jika tidak kehausan ia tidak minum.
Agar tidak kekenyangan saat
kita makan, mari kita ikuti petunjuk Rasulullah. ‘’Tidak ada yang dipenuhkan
manusia lebih buruk dari perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang
dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalaupun harus makan lebih banyak maka
hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk
pernapasan.” (HR IbnuMajah dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui sahabat
Nabi Miqdam bin Ma’di Karib). Wallahu’alam.
Sumber : Republika.co.id
Senin, 14 April 2014
Investasi Pelukan Rasulullah
RADAR ISLAM -- Pada saat thawaf (mengelilingi Kabah), Rasulullah
SAW bertemu seorang pemuda yang pundaknya terlihat lecet-lecet. Setelah
selesai thawaf Rasul menghampiri pemuda itu dan bertanya, ‘’Kenapa pundakmu seperti itu?’’
Pemuda itu menjawab, ‘’Ya
Rasulullah, saya berasal dari Yaman. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur
(tua renta). Saya sangat mencintainya. Saya selalu menggendongnya, dan tidak
pernah melepaskannya. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, sedang
shalat atau saat istirahat. Di luar itu saya selalu menggendongnya.’’
Pemuda itu lalu bertanya, ‘’Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk orang berbakti kepada orang tua?’’ Sambil memeluk pemuda itu, Rasulullah SAW menyatakan, ‘’Sungguh Allah ridha kepadamu. Engkau anak saleh, anak berbakti. Tetapi, wahai anakku, ketahuilah, kasih sayang orang tuamu kepadamu tidak akan terbalaskan olehmu.’’
Sekelumit kisah tersebut menginspirasi kita semua, berbakti kepada kedua orang tua dengan ikhlas, merupakan sebuah ibadah yang dapat menyebabkan seorang anak mendapat ridha Allah SWT.
Pemuda itu lalu bertanya, ‘’Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk orang berbakti kepada orang tua?’’ Sambil memeluk pemuda itu, Rasulullah SAW menyatakan, ‘’Sungguh Allah ridha kepadamu. Engkau anak saleh, anak berbakti. Tetapi, wahai anakku, ketahuilah, kasih sayang orang tuamu kepadamu tidak akan terbalaskan olehmu.’’
Sekelumit kisah tersebut menginspirasi kita semua, berbakti kepada kedua orang tua dengan ikhlas, merupakan sebuah ibadah yang dapat menyebabkan seorang anak mendapat ridha Allah SWT.
Bahkan Rasulullah SAW memberikan apresiasi tinggi
terhadap anak yang berbakti kepada orang tua itu dengan memeluknya. Dengan kata
lain, berbakti kepada orang tua adalah salah satu kunci meraih kebahagiaan
dunia dan memperoleh pelukan Rasulullah SAW.
Alangkah indah dan bahagianya jika kita dipeluk
Rasulullah! Pelukan Rasulullah SAW dan jaminan keridhaan Allah bagi sang pemuda
itu tentu merupakan dambaan kebahagiaan bagi setiap mukmin.
Dari Abdullah ibn ‘Amr, Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah itu tergantung pada ridha
kedua orang tua dan kemurkaan Allah itu juga tergantung pada kemurkaan
keduanya.” (HR at-Turmudzi dan al-Baihaqi).
Anak wajib berbakti dan bersikap baik kepada keduanya
dengan sepenuh hati karena Islam memang sangat memuliakan orang tua.
Sebaliknya, Islam melarang anak menjadi durhaka kepada keduanya.
Karena durhaka kepada salah satu atau keduanya merupakan
dosa besar, seperti halnya syirik. Mendurhakai orang tua, luar biasa fatal.
Boleh jadi Allah SWT menyegerakan balasannya kepada pelakunya selagi masih
hidup di dunia.
Allah SWT bisa saja membuat perjalanan hidup sang pendurhaka
orang tua menjadi tidak berkah dan penuh kesulitan.
Oleh karena itu, pelukan Rasulullah SAW itu mesti
dimaknai sebagai panggilan spiritual bagi orang tua agar berusaha menyiapkan
anaknya menjadi anak yang saleh.
Bagi anak, pelukan Rasulullah SAW itu harus dipahami sebagai isyarat kuat untuk selalu berbuat baik, tidak menyakiti, apalagi mendurhakai keduanya. Jangankan mendurhakai, membuat orang tua sedih saja sudah termasuk durhaka.
Dari ‘Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Siapa yang membuat orang tuanya sedih
berarti ia telah mendurhakai keduanya.” (HR al-Khathib al-Baghdadi). Disadari
atau tidak, banyak hal membuat kedua orang tua itu sedih.
Di antara hal yang membuat orang tua sedih secara
langsung adalah tidak menghormati, menyakiti, membentak, dan memarahi keduanya.
Hal yang membuat keduanya sedih secara tidak langsung
misalnya seorang anak melakukan pelanggaran ajaran agama.
Seperti tidak shalat, korupsi, selingkuh, atau berzina.
Pada dasarnya jika seorang anak melakukan kemaksiatan, orang tua yang
mengetahuinya pasti merasa sangat kecewa dan sedih, sehingga secara psikologis
jiwanya tertekan.
Berbakti kepada kedua orang tua dalam Islam, tidak hanya
berlaku saat mereka masih hidup tetapi juga setelah tiada. Dengan berbakti
kepada mereka, kita berinvestasi Pelukan Rasulullah bagi
masa depan kita.
Jumat, 11 April 2014
Istirahat dalam Berkah
SubhanAllah
sahabatku, aminkan doa sebelum rehat malam ini.
Bismillaahirahmaanirrahiim,
Alhamdulillaahirabbil alamin, allahumma shalli wa sallim ala Rasulillahi
shallallaahu alaihi wassalam, wa ala aalihi wa ashhaabihi ajmaiin, Allahumma ya
Allah, tancapkanlah kekuatan dan keindahan iman di hati kami, hiasilah hidup
kami dengan kemuliaan akhlak, ikhlas, sabar, syukur, qonaah, wara', sangat
berhati-hati dengan syariatMu, zuhud cari dunia
untuk kepentingan akhirat kami, tawakal, istiqomah, dan sifat tawadhu’ rendah
hati…
Ya Allah, selamatkan kami dari kekufuran, kemusyrikan, kefasiqan,
kemunafikan dan keinginan maksiat…
Ya Allah, teruslah jaga kami dengan hidayahMu, jangan sampai
berpecah belah karena urusan duniawi, jangan pernah tinggalkan kami lagi Ya
Allah…sungguh kami lemah, kami tidak sanggup menghadapi godaan dunia sesaat
ini, kami tidak kuat mengendalikan hawa nafsu kami, kecuali Engkau yang
menolong kami, melindungi kami dan menjaga kami dengan hidayahMu ya Allah…aamiin.
Jangan lupa sebelum rehat berwudhu dulu, berdoa, berzikir dan berazam untuk sholat malam.
Jangan lupa sebelum rehat berwudhu dulu, berdoa, berzikir dan berazam untuk sholat malam.














