peluang usaha

Kamis, 20 Maret 2014

Gambaran Tentang Keindahan Surga

 Gambaran Tentang Keindahan Surga

RADAR ISLAM -- Menurut Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ’’ALLAH SWT berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah menyediakan untuk hamba-Ku yang saleh segala apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah terbetik oleh hati siapapun.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan begitu, saat Allah dan Rasul-Nya menyampaikan perumpamaan tentang kondisi surga, semua itu sekadar untuk memudahkan kita memahaminya. Memang, Allah dan Rasul-Nya menyebutkan banyak hal yang bernuansa dunia.

Namun demikian, semuanya itu sejatinya tidaklah sama. Misalnya, Allah memaparkan keadaan surga yang dijanjikan itu di dalamnya terdapat sungai-sungai. Akan tetapi, bukan sungai-sungai sebagaimana yang kita pernah saksikan di dunia.

Dikatakan, ada sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan seterusnya (QS Muhammad [47] : 15).

Misalnya, Allah memaparkan keadaan surga yang dijanjikan itu di dalamnya terdapat naungan dari pohon-pohon rindang. Akan tetapi, bukan pohon-pohon yang kita pernah saksikan di dunia. Dikatakan, pohon itu tidak terlalu tinggi dan berbuah sepanjang tahun.

Hal itu memudahkan bagi siapa pun yang hendak memetiknya. Dikatakan pula, fasilitas penghuni surga yang sangat memadai dibandingkan dengan yang kita pernah saksikan di dunia seperti pakaian, makanan, minuman, kamar tidur, dan seterusnya.

Abu Hurairah menuturkan, saat Rasulullah SAW ditanya tentang surga, Rasulullah SAW menjelaskan, surga itu terbuat dari emas, perak, permata lu’lu, yakut, minyak kesturi, dan ja’faran. Kualitasnya sama sekali tidak berubah. (HR Ahmad dan Tirimidzi).

Menurut Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya surga itu terdiri atas 100 tingkatan yang Allah sediakan bagi mereka yang berjihad. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya seperti jarak antara langit dan bumi.’’ (HR Bukhari).

Abu Sai’d al-Khudri berkata,  Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya surga itu terdiri atas 100 tingkatan. Seandainya seluruh makhluk di muka bumi berkumpul di salah satu tingkatan, itu sudah cukup menampung mereka semuanya karena luasnya.’’  (HR Ahmad).

Hingga sekarang, entah berapa banyak penulis yang mengungkapkan keistimewaan surga dalam berbagai bahasa. Kendati demikian, saya kira cerita mengenai surga itu tidak akan ada habis-habisnya. Sampai kita benar-benar menyaksikannya dengan mata kepala kita sendiri.

Bagi kita, semua informasi yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya sudah lebih dari cukup. Sekarang mari kita jawab pertanyaan berikut ini dengan sejujurnya. Sudahkah kita termasuk di antara orang-orang yang berada dalam antrean calon penghuni surga?

Ya ALLAH, hiasilah hati kami dengan kemuliaan akhlak, kesenangan ibadah, semangat beramal shaleh dan mudahkanlah kami untuk dapat menapaki jalan lurus menuju surga-Mu. Aamin.


Sumber : Republika.co.id

Mengapa ALLAH Mewajibkan Kita Puasa?

menunggu-buka-puasa

Mengapa ALLAH SWT Mewajibkan Kita Puasa?

Karena Allah sangat sayang pada hamba-Nya yang beriman agar menjadi hamba-Nya yang bertakwa.

Kalau disunnahkan belum tentu kita mau shaum (puasa) lho!. Kadang kita masih seperti anak kecil, kalau mau mandi harus dikejar-kejar mama dulu, mau makan bersusah payah mama merayu kita, karena anak kecil belum faham dengan mandi dan makan akan sehat dan kuat.

ALLAH "Murobbul Ibaad", Pengatur dan Maha Guru alam semesta ini, SubhanAllah.

Waspada Ajakan Setan


Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu..

Sahabatku, syetan itu selalu mencegah manusia:
1. Jangan sampai senang belajar Alqur'an dan Sunnah
2. Jangan sampai senang nasehat dan hadir di Majlis Ilmu dan Zikir
3. Jangan sampai senang pada Ulama
4. Jangan sampai berakhlak mulia terutama rendah hati
5. Jangan sampai manusia senang beribadah, sholat, puasa, haji dan sebagainya (QS58:19)
6. Jangan sampai makan minum dan mencari rizki dengan cara halal
7. Jangan sampai manusia senang berderma (QS2:286)
8. Jangan sampai menikah bahagia
9. Jangan sampai jujur dan amanah
10. Jangan sampai saling mencintai, bersaudara dan bersatu karena Allah
11. Jangan sampai manusia senang dakwah dan jihad
12. Jangan sampai istiqomah, ikhlas dan husnul khotimah, karena itu Rasulullah mengingatkan pada hamba Allah yang senang beribadah dan beramal sholeh, "Al ujba al ujba al ujba" waspadailah bangga diri setelah berbuat baik!. 

"Semoga Allah selalu melindungi kita dari keinginan maksiat, bangga diri dan godaan saythoonir rojiim... Aamiin".

Senin, 17 Maret 2014

Doa Taubat

stop maksiat

Assalaamu alaikum warahmatullahi wabarkatuh..

Aku tidak akan pernah bosan mengajak diriku dan kalian semua sahabat mukmin untuk terus perbanyak doa mohon ampunan kepada ALLAH apalagi doa di penghujung malam yang sangat mustajab.

Sahabatku baca doa taubat dengan penghayatan lalu aminkan :

"Ya Allah pujian untuk Mu seluas langit dan bumi, hanya Engkau terpuji Ya Allah, hamba berterimakasih pada-Mu yang telah memberi kesempatan hamba bertaubat,

Ya Allah sampaikan sholawat salam untuk Rasul-Mu yang mulia, keluarga, dan para sahabat yang menyertainya. Ya Rabbana kami telah menzolimi diri kami dengan banyak berbuat maksiat, kalau Engkau tidak ampuni dan rahmati kami, niscaya kami termasuk mahluk-Mu yang celaka.

Ya Allah tidak ada sesuatupun tersembunyi dimatamu, alangkah malunya hamba, alangkah hinanya hamba, alangkah kotornya hamba, rasanya tidak pantas menyebut nama-Mu yang suci lagi mulia, sementara hamba ini penuh dengan lumuran dosa, tetapi Engkau dengan rahmat-Mu masih memberi kesempatan hamba untuk bertaubat

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Maha Pengasih, Maha Penyayang Maha Menerima Taubat, terimalah taubat hamba, ampunilah seluruh dosa hamba, maafkan seluruh kesalahan hamba, hijrahkan hamba menjadi hamba-Mu yang sungguh-sungguh takut pada-Mu dan takut dahsyatnya hari pembalasan... sungguh-sungguh taat pada-Mu... sungguh-sungguh memperbaiki diri... sungguh-sungguh tidak maksiat lagi.

Ya Allah, hamba ingin bahagia selama-lamanya di akhirat...


Ya Allah, kabulkan doa hamba... Aamiin.

Koleksi Poster Dakwah 1


Ibadah dan Sedekah

ibadah dan sedekah

RADAR ISLAM -- Mbah Kasia, begitu kami biasa menyapa. Nenek berusia senja itu hidup sederhana dan sakit-sakitan. Ia tinggal serumah bersama putra dan suaminya, Mbah Molatip, yang renta dan sakit-sakitan pula.

Tidak banyak yang dapat dilakukan, selain bergantung hidup kepada putra semata wayang mereka yang bekerja sebagai kuli serabutan. Jangankan bekerja, bahkan hidup saja bertopang obat.

Selain faktor usia, pasangan kakek-nenek itu memang mengidap berbagai penyakit dalam selama bertahun-tahun. Namun demikian, semangat ibadah mereka luar biasa. Mereka tidak absen shalat jamaah lima waktu di masjid.

Bahkan, ketika Subuh, saya sering mendapati mereka sudah di masjid sejak pukul 03.00 WIB. Ada yang lebih membuat saya merasa malu. Mereka hidup pas-pasan bahkan kekurangan, tetapi kedermawanan menjadi gaya hidup sehari-hari.

Mbah Kasia sering mengantarkan makanan ke rumah. Padahal, makanan itu pemberian dari orang untuk mereka. Kalau saya mempunyai sedikit rezeki dan berbagi dengan mereka, ucapan terima kasih tidak henti-henti disampaikan.

Besok atau lusanya, biasanya mereka membalas dengan memberikan apa saja yang mereka punya untuk anak saya. SubhanAllah. Keterbatasan hidup ternyata tidak menghalangi mereka berbuat baik kepada sesama.

Merekalah teladan hidup, hamba-hamba Allah yang tidak fasih mengucapkan dalil agama, tetapi sangat terampil mempraktikkan ajaran agama. Kita yang lebih paham agama dan hidup jauh dari kekurangan, cobalah menengok mereka.

Mereka miskin dan lemah di mata manusia, tetapi kaya dan kuat di mata Allah. Saya berpikir, itulah barangkali yang memunculkan banyak keajaiban terhadap mereka. Misalnya, beberapa tahun lalu, Mbah Kasia divonis dokter hanya bisa bertahan hidup selama enam bulan ke depan.

Itu karena komplikasi jantung akut yang dideritanya. Berbagai pengobatan sudah dijalani. Hanya, ia tidak mampu membayar ongkos operasi sehingga harus pasrah pada nasib. Mbah Kasia akhirnya mengalami kondisi bagai mayat hidup.

Perut membuncit, napas tersengal, dan bicara dengan isyarat. Betapa hebat ujian hidup yang ia alami. Bagi kami mati lebih baik daripada hidup seperti itu. Tetapi, kuasa Allah sungguh mengungguli nalar manusia.

Faktanya, kondisi Mbah Kasia berangsur pulih. Hingga kini, ia masih berkesempatan menghirup udara dunia. Tentang suaminya, Mbah Molatip, lebih mengherankan lagi. Malam itu pukul 21.00 WIB. Kakek berusia kepala delapan ini mendadak sekarat akibat muntah darah.

Darah segar mengalir deras dari hidung dan mulutnya. Akhirnya, ia tidak lagi bergerak dan tidak bernapas selama beberapa menit. Terang saja tangis keluarga pecah. Kami semua yang menunggu mengiranya sudah meninggal.

Mbah Molatip lalu ditidurkan telentang, disedekapkan layaknya orang meninggal. Ya Allah, betapa cepat Engkau mengambil hamba-Mu. Maghrib tadi masih shalat jamaah di masjid, tetapi sekarang telah menghadap-Mu dengan kondisi demikian menyedihkan.

Keluarga lantas meminta saya untuk mengumumkan berita kematiannya di masjid. Saya bergegas menuju masjid. Baru sekian langkah keluar, saya mendengar gemuruh dari dalam rumah. Seseorang berlari mengejar sambil memanggil-manggil nama saya.

“Jangan diumumkan dulu”, katanya. Saya menghentikan langkah dan kembali masuk rumah. Ajaib, kakek yang sehari-hari berjalan dengan bantuan tongkat itu mendadak bergerak-gerak.

Besoknya, Mbah Molatip sudah kembali shalat jamaah Subuh di masjid seperti biasa. Kabar duka baru muncul beberapa waktu lalu. Mbah Molatip telah meninggalkan kita semua.

Ya Allah, hiasilah di sisa umur kami dengan keberkahan dan limpahan rahmat kasih sayang-Mu. Aamin. 

Minggu, 16 Maret 2014

Mempersiapkan "Pintu" Berjumpa dengan ALLAH

Pintu berjumpa dengan ALLAH

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu..

Sahabatku yang dirahmati ALLAH, saudara-saudariku yang kucintai karena Allah Jalla Jalaluh.

Ketahuilah, bahwasanya asal kita ini tadinya tiada. Sekarang ada dari proses yang menakjubkan. Dari tetesan air mani, menjadi darah, menjadi segumpal daging, fakasaunal ‘izhama, Allah menjadikan di sela-sela daging ada tulang belulang, dengan desain yang apik dan rapi, lahirlah bayi, yaitu kita, manusia. Dan subhanAllah, rupanya kita hidup di dunia ini pun hanya terminal. Tempat kehidupan sementara sebelum kehidupan di akhirat nanti. Semua kita sudah divonis mati. Dan semua punya jadwal kematian.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…” (QS. Ali Imran : 145).

Semua kita punya jadwal ajal. Kitab ajal ini dirahasiakan oleh ALLAH Swt. Tujuannya agar kita bertakwa kepada Allah, agar kita waspada, agar kita bersiap-siap. Karena jadwal kematian dimisterikan oleh Allah.

When, dimana kita mati.

Where, kapan kita mati.

How, bagaimana cara kita mati.

Kita nggak pernah tahu. Karena itulah kita harus bersiap-siap.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati dalam keadaan beragama Islam.

Dalam keadaan Islam.

Dalam keadaan ikhlas.

Dalam keadaan rela.

Dalam keadaan ridha.

Dalam keadaan taat.

Dalam keadaan beramal shaleh.

Dalam keadaan senang beribadah.

Dalam keadaan lezat beristiqamah.

Dalam keadaan kerinduan berjumpa dengan Allah Jalla Jalaluh.

Jadi, kita hanya sebentar hidup di dunia ini, hanya numpang mampir. Cuma numpang jalan. Jadi dunia ini bukanlah tempat kita.

Karena hari demi hari, jam, menit, detik, kita mendekati jadwal kematian kita. Maka janganlah terkecoh dengan permainan hari. Jangan! Senin kembali Senin. Selasa kembali Selasa. Jangan ada istilah Ulang Tahun. Karena apanya yang diulang? Nggak ada yang bisa mengulang tahun itu. Umur bertambah, hakikatnya usia semakin berkurang.

Allah panjangkan umur kita, Allah lemahkan daya kemampuan kita. Tidakkah kau berpikir? Tidakkah kau waspada? Tidakkah kau takut akan kematian yang datang mengincar?

Allahu Akbar!

Ketahuilah saudaraku, kematian itu datang dengan cara tiba-tiba. Kematian itu pintu keadilan. Dia datang kepada siapapun. Kematian datang kepada orang-orang yang miskin dan yang kaya juga pasti mati. Dia datang kepada rakyat jelata dan datang juga kepada para pejabat (penguasa). Dia datang kepada siapa pun dan tidak pernah memberi tahu.

Kematian kalau sudah datang, nggak ada yang bisa menundanya. Tidak ada yang bisa menolaknya. Suka tidak suka, mau tidak mau, berani atau takut, pasti akan mati. Karena itu orang beriman tidak takut mati. Tidak mencari mati. Tidak melupakan mati. Tapi uniknya, orang beriman itu merindukan mati.

Why?

Karena mati adalah pintu berjumpa dengan ALLAH Swt.

Itulah yang membuat orang-orang beriman khusuk dalam ibadah. Karena ia yakin akan berjumpa dengan Allah. Maka kalau memang kematian adalah pintu perjumpaan dengan Allah, “Tidaklah aku melihat kematian,” kata Ali bin Abi Thalib, “kecuali pintu kebahagiaan.”

Allahu Akbar!

Dulu kita tiada, sekarang ada, dan akan kembali tiada.

Maka mulai sekarang bersiaplah menghadapi kematian dengan kesungguhan takwa, lalu kita akan bahagia selamanya di akhirat. Insya Allah.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa Anta, astaghfiruka wa atubu ilaih.