peluang usaha

Senin, 23 Juli 2012

El Sajjadah : Sajadah yang bisa Menyala dalam Gelap Sekaligus Penunjuk Arah Kiblat

el sajadah

ISTANBUL -- Ada dua persoalan ketika muslim hendak melaksanakan shalat saat berpergian jarak jauh, yakni arah kiblat dan penerangan. Muslim Turki punya solusi mengatasi kedua masalah itu.

Adalah desainer Soner Oznec, yang sukses menyulap sajadah biasa menjadi tampak istimewa. Sajadah hasil inovasinya itu disebut  'El Sajjadah'. "EL adalah singkatan dari electro luminescent. Sementara sajadah adalah karpet berukuran kecil yang biasa digunakan muslim untuk melaksanakan shalat," papar dia seperti dikutip thehuffingtonpost.com, Jum'at (13/7).

Oznec menjelaskan, kelebihan sajadah ini antara lain karpetnya dapat menyala dalam ruangan gelap. Kelebihan lain, sajadah ini dilengkapi kompas yang mempermudah muslim menemukan arah kiblat.

"Kalau merasa terganggu dengan cahaya yang dihasilkan, pengguna dapat mematikan fungsinya," kata dia.

Yang menarik, cahaya yang berasal dari neoprene ini tidak hanya sekedar terang. Karena cahaya itu membentuk pola mengikuti desain motif dari sajadah. "Misalnya saja, kalau desainya masjid biru, maka cahaya itu akan mengikuti desain masjid biru mulai dari kubah hingga menara," kata Oznec.

Namun, sajadah ini belum diproduksi secara massal. Sebab, Oznec butuh dana 100 ribu dolar AS agar temuannya ini dapat dijual di pasaran. Ia hanya sanggup mengeluarkan dana 30 ribu dolar AS. Pasalnya, ia menawarkan kepada para donatur untuk berinvestasi melalui laman kickstarter.com. "Saat ini sudah terkumpul 7 ribu dolar AS," ungkap Oznec.

Sebenarnya ada dua protipe yang diciptakan Oznec. Satu protipe sudah dibeli Museum Modern Art, New York.

Masjid Ini Berdiri Kokoh Tanpa Semen dan Besi

masjid pinrang

RADAR ISLAM | Pinrang - Secara teori arsitektur, rasanya mustahil bangunan ini bisa berdiri selama 55 tahun. Tapi fakta membuktikannya.

Bangunan utama Masjid Al Muhajirin yang terletak di Desa Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, bergaya arsitektur Timur Tengah ini tidak menggunakan sedikit pun besi sebagai rangka bangunan.

Ketua pembangunan Masjid Al-Muhajirin, Andi Patarai Nuur, 65 tahun, mengatakan sejak dibangun tahun 1957 masjid ini tidak menggunakan sebatang besi sebagai rangkanya, termasuk lantai dua sebagai tempat bertenggernya 25 menara.

"Sedikit pun tidak ada besi yang menjadi bagian utama bangunan ini," katanya kepada Tempo, Senin, 23 Juli 2012. Patarai yang mengaku terlibat langsung dalam pembangunan masjid tersebut mengatakan tempat ibadah itu dibangun oleh K.H. Sayyed Hasan Alwi.

Awalnya lokasi tersebut merupakan tempat masjid yang berukuran kecil. Namun setelah K.H. Sayyed Hasan alwi kembali ke Ujung Lero, setelah 10 tahun bermukim di Madinah, ia pun merombak masjid tersebut dengan berukuran 50 x 40 meter di atas lokasi 1 hektare. Masjid itu dan mampu menampung 1.500 jemaah dan sejak dibangun belum pernah dipugar.

Menurut Patarai, bangunan pada masjid ini, termasuk bagian kubah yang bertengger di atas lantai dua, hanya terdiri dari susunan batu bata, tanpa semen dan besi sebagai tulang. Batu bata itu disusun di atas bilahan bambu.

Setelah kering, bambu tipis itu kemudian dilepas. "Hanya, bata yang telah dilangkahi atau dikencingi anjing tidak dipasang pada bagian masjid tersebut," kata Patarai.

Saat gempa bumi melanda daerah Pinrang tahun 1990-an, bangunan ini tetap kokoh. Padahal ada beberapa gedung di Kota Pinrang yang runtuh akibat guncangan gempa.

Seorang arsitek Jepang, kata dia, pernah mengunjungi masjid ini. Setelah melihat-lihat, ia tak percaya karena dianggap bertentangan dengan teori konstruksi bangunan.

Arsitek itu kemudian memprediksi 5 tahun yang akan datang masjid ini akan runtuh. "Tapi hingga 12 tahun setelah diprediksi, masjid ini tetap kokoh," ujarnya.

Sumber : Tempo.co

Jumat, 20 Juli 2012

Ada Apa di Dalam Ka'bah? Inilah Jawabannya

rahasia ka%bahTak sembarang orang yang bisa memasuki Ka'bah. Oleh sebab itu, banyak yang bertanya, apa sebenarnya yang ada dalam Ka'bah itu ? Apa benar dalam Ka'bah masih tersimpan berhala-berhala zaman dulu sebagaimana yang dituduhkan kaum perusak Islam?

Sebagaimana yang diperlihatkan dokumenter Kerajaan Arab Saudi, isi dalam Ka'bah hanya berupa ruangan kosong. Bahagian dalam Ka'bah terdapat tiga pilar dari kayu gaharu terbaik. Panjang satu pilar sekitar seperempat meter atau setengah meter berwarna campuran antara merah dan kuning. Ketiga pilar ini berjejer lurus dari utara ke selatan.

Pada awal abad ini (tahun 2000-an), bagian bawah ketiga pilar retak yang kemudian diperbaiki dengan diberi kayu melingkar di sekelilingnya. Ketiga pilar ini dibuat atas inisiatif Abdullah ibn Al Zubair tiga abad yang lalu. Meski demikian, ketiganya masih tetap kokoh hingga saat ini.

Atap dalam Ka'bah penuh dengan ukiran-ukiran mengagumkan, selain diberi lampu-lampu indah yang terbuat dari emas mumi dan dari per­hiasan-perhiasan indah lainnya. Lantai Ka'bah dibuat dari batu pualam putih.

Dinding Ka'bah bagian dalam dibalut dengan batu pualam war­na-warni dan dihiasi dengan ukiran bergaya Arab. Terdapat tujuh papan yang menempel di dinding ini yang bertuliskan nama-nama orang yang pernah merenovasi atau menambahkan sesuatu yang batu di dalam Ka'bah atau Masjidil Haram.

Dikatakan bahwa tembok Syadzarwan adalah bangunan tambahan pada Ka'bah yang dikerjakan oleh kaum Quraisy. Menurut mazhab Syafi'i dan Maliki, tembok Syadzarwan termasuk bagian Ka'bah, sehingga jamaah haji yang bertawaf harus berada di luarnya. Pendapat sebaliknya dikatakan oleh mazhab Hanafi. Menurut mereka, tembok Syadzarwan bukan merupakan bagian Ka’bah.

Adapun mazhab Hanbali memilih berada di antara dua pendapat di atas. Menurut mereka, menjauhi tembok itu sangat dianjurkan, tetapi seandainya jamaah melakukan tawaf di dalamnya maka tawafnya tetap sah dan tidak sampai rusak.

Yang jelas, belum diketahui secara pasti kapan pertama kali tembok Syadzarwan dibangun. Setiap kali Masjidil Haram dipugar, tempat-tempat di sekitarnya juga dipugar. Yang pasti, tembok Syadzarwan mengalami pemugaran pada tahun 542 H, 636 H 660 H, dan 1010 H.

Sumber : Republika

Senin, 25 Juni 2012

Joshua Evans : Injil Membimbingku pada Islam (Bagian 2 - Habis)

joshua-evans 2 radar islam
Joshua Evans. Photo @ Vimeo.com
RADAR ISLAM | Baginya, tak perlu ada yang berdiri di antara dirinya dengan Tuhan. Ketika aku ingin meminta sesuatu dari-Nya, aku hanya perlu datang kepada-Nya,” kata Evans.

Ia mulai mencari agama, mempelajari Yahudi, Budha, Hindu, Thao, dan banyak lainnya. Dan setiap bertemu dengan pemeluk agama tertentu yang belum dipelajarinya, Evans selalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kitab?” 

Tak kunjung menemukan Tuhan, Evans menyerah dan marah. Menurutnya, Tuhan mempedulikannya. Sebagai pelampiasan, Evans mulai berpesta dan berteman alkohol, dua hal yang selalu dijauhinya. 

Satu malam, pulang dari pesta, Evans selamat dari kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawanya. Tiga bulan kemudian, ia kembali selamat dari peluru pistol yang ditodongkan padanya di sebuah mesin ATM. “Ucapan ibuku mulai membuatku berpikir, ‘Tuhan punya maksud di balik ini semua’.” 

Sejauh itu, Evans tak mengenal Islam. Dan perkenalan pertamanya tak berlangsung baik. Saat melihat-lihat rak buku agama di kampusnya, Evans menemukan sebuah buku tentang Islam. Belakangan ia baru tahu bahwa buku itu hanya berisi propaganda negatif tentang Islam. “Ia menyebutkan banyak hal buruk, salah satunya adalah bahwa Islam membolehkan Muslim membunuh orang-orang non Muslim, kapanpun dan di manapun.” 

Evans kembali bertemu Islam saat ia mengenal seorang Amerika-Afrika. Ketika Evans bertandang ke rumahnya, mereka berdebat tentang agama. Saat itulah Evans tahu bahwa ia berdiskusi dengan seorang Muslim. Diajaknya Evans ke masjid.

Di masjid, Evans mendengarkan khutbah Jumat yang berbicara tentang pengampunan Allah. “Belakangan aku tahu, segalanya sengaja dipersiapkan bagiku. Temanku telah memberitahu sang imam tentang kedatanganku,” ujarnya, disambut tawa orang-orang yang menyimak ceritanya.

Terlepas dari itu, Evans tertarik dengan materi khutbah yang baru didengarkannya. Dan saat menyaksikan para Muslim melakukan gerakan ruku’ dan sujud, Evans tak mampu menutupi kekagumannya. “Itu lebih dari berdoa. Itu adalah menyembah, penuhanan yang sesungguhnya,” kata Evans.

Setelah shalat Jumat usai, Evans menghampiri sang imam dan bertanya, “Apakah kalian (Muslim) mempunyai sebuah kitab?”

***
Evans membaca kitab dari sang imam, surah demi surah. “Aku tahu nama-nama ini; Ibrahim, Musa, Daud, Zakariya, Isa. Tapi, ada yang berbeda tentang mereka dalam kitab ini,” teriaknya dalam hati. Alquran menggambarkan dan mengisahkan mereka sebagai orang-orang mulia yang harus diteladani umatnya.

Membaca kisah-kisah tentang Yesus, Evans semakin kagum. Menurutnya, Injil tak menjelaskan bagaimana Maryam menghadapi tuduhan  yang ditujukan padanya, bagaimana Yesus yang masih bayi berbicara untuk membela ibunya.

“Ini kisah yang sangat indah. Siapapun pengikut kitab ini, aku ingin menjadi seperti mereka,” kata Evans. 

Jumat berikutnya, Evans kembali mendatangi masjid tempatnya mendengarkan khutbah. “Bukan untuk menanyakan apakah mereka punya kitab yang lain,” katanya. “Aku datang untuk menerima Islam.”

“Desember 1998. Aku masih mengingatnya,” ujar Evans, tersenyum.

Sumber : Republika.co.id


Joshua Evans : Injil Membimbingku pada Islam (Bagian 1)

joshua-evans 1 radar islam
Joshua Evans. Photo @ Youtube.com
RADAR ISLAM | Evans tumbuh dengan didikan yang ketat, meski tanpa kedua orang tuanya. Tinggal dekat dengan gereja dan belajar di sekolah Kristen adalah dua hal yang membentuknya menjadi pendeta muda. Namun ia tak pernah menyangka, Injil justru membimbingnya pada perhentian yang lain, yakni Islam.
                                                                           ***

“Aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku, di South Carolina (AS),” Evans mengawali ceritanya. Malam itu, 6 Februari 2009, ia diundang untuk berbicara di Masjid Omar Al Farouk, California. Ibunya meninggalkan rumah sejak Evans masih kecil, sedangkan ayahnya tinggal jauh darinya untuk bekerja. “Di rumah hanya ada aku dan dua orang penganut Kristen yang sangat konservatif (kakek dan nenek).”

Konservatisme, menurut Evans, tak menyulitkan kedua orang terdekatnya itu untuk membentuk dirinya. Sejak kecil, Evans telah terbiasa datang ke gereja pada Minggu pagi dan malam, ditambah Rabu. “Dan dalam Kristen, orang-orang seperti kami termasuk golongan sangat relijius,” katanya.

“Dari gereja, rumah kami hanya dibatasi oleh dua rumah lain,” Evans melanjutkan. Karenanya, ia tak pernah absen dari sekolah Minggu dan kegiatan Sabtu malam yang diadakan gereja.

Meski mengaku tak menyukai gereja—di mana ia harus diam, mendengarkan ceramah pastur, berdiri, lalu kembali duduk dan mendengarkan, Evans kecil menyukai sekolah Minggu. Ia senang mendengarkan cerita-cerita tentang nabi seperti Musa, Nuh, dan Ibrahim. “Cerita-cerita itu yang kupahami sebagai Kristen.”

Pada usia 12 hingga 14 tahun, Evans mengikuti layanan gereja setiap Sabtu malam, di mana ia bisa bermain basket, sepak bola, makan pizza dan kue bersama teman-teman sebayanya. Lalu, kegiatan itu diakhiri dengan ceramah 30 menit oleh seorang pendeta muda. “Usianya hanya tiga tahun lebih tua dariku. Ia berbicara tentang agama, Tuhan, dan banyak hal lain.”

Dari kegiatan-kegiatan gereja yang ia ikuti, Evans mulai menemukan keimanan terhadap agama tersebut. “Untuk pertama kalinya, aku beragama atas dasar keinginanku sendiri,” ujarnya.

***

Keimanan Evans semakin ‘aman’ ketika akhirnya ia melanjutkan ke sekolah tinggi yang disebutnya ‘sekolah Kristen paling konservatif’ di South Carolina, Bob Jones University. Di kampusnya, laki-laki dan perempuan harus mengenakan pakaian tertutup, dilarang berduaan dengan lawan jenis, dan tak ada pesta.

Di kampus itu, Evans berkawan akrab dengan seorang pendeta muda, yang kritis dan begitu ingin tahu banyak hal tentang Injil. “Karena kami tahu, Injil memiliki banyak versi,” katanya. Maka suatu hari, sang kawan mengajukan sebuah pertanyaan ringan yang tak pernah diduga Evans, “Apakah kamu pernah membaca Injil?”

Evans terdiam sejenak,  lalu menjawab bahwa tentu ia pernah membacanya saat di gereja, ketika pastor menyuruh jamaat membaca ayat tertentu. Sang teman lalu mengajak Evan membacanya seperti membaca buku, dari bagian awal hingga akhir. “Jika Tuhan bisa berbicara dengan pastor melalui Injil, seharusnya dengan kita pun bisa,” Evan menirukan ucapan temannya.

“Itu ide yang sangat bagus, dan kami mulai membacanya,” kata Evans yang memulainya dengan membaca Kitab Perjanjian Lama. Di kitab itu, ia menemukan kisah-kisah nabi seperti pernah didengarkannya di sekolah Minggu. Namun ia segera dikejutkan beberapa bagian kisah yang justru menenggelamkan kemuliaan para utusan Tuhan tersebut, seperti menggambarkan nabi tertentu sebagai pecandu alkohol.

“Para nabi seharusnya adalah orang-orang mulia yang mampu menjadi teladan bagi umatnya,” Evans berontak. Merasa ada yang salah dengan kitabnya, ia mendatangi beberapa pastor. Dan ia kembali kecewa dengan jawaban para pastor itu. “Dengan jawaban yang sama dan normatif, mereka menasihatiku untuk tidak membiarkan ilmu pengetahuan meruntuhkan keimananku,” kata Evans. Ia juga diminta membaca Kitab Perjanjian Baru.

Meski tanpa penjelasan memuaskan, Evans menggarisbawahi satu pesan utama dari Kitab Perjanjian Lama yang baru ditamatkannya. “Tuhan itu Satu, dan Ia adalah Dzat yang Unik. Ia selalu iri soal pemujaan. Jika ada yang menyembah selain diri-Nya, Tuhan memberinya hukuman.”

Evans mulai membaca Kitab Perjanjian Baru. Kali ini, pertanyaan yang mengelilingi otaknya adalah mengenai mereka yang namanya disebutkan dalam Injil; Matthew (Matius), Luke (Lukas), John (Yohanes), dan Mark (Markus). Tak hanya itu, ia mulai mendalami ajaran Yesus melalui ucapan-ucapannya di dalam Injil. “Aku menangkap pesan yang sama (dengan yang ada di dalam Kitab Perjanjian Lama), Tuhan hanya satu,” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggunya, dan memberinya sebuah keputusan. “Kutinggalkan Kristen.”  (bersambung pada Joshua Evans : Injil Membimbingku pada Islam (Bagian 2 - Habis).

Sumber : Republika.co.id

Sabtu, 16 Juni 2012

Dunia Menanti Kedatangan Imam Mahdi

gurun-pasir
Setelah Rasulullah SAW wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah/ Juni  632 M, muncul sebuah pengharapan di kalangan umat Islam akan kedatangan seorang ratu adil atau dikenal dengan Imam Mahdi. Keyakinan akan datangnya seorang juru penyelamat atau Imam Mahdi berakar kuat, baik di kalangan Sunni maupun Syiah.

Menurut Ensiklopedi Islam, Imam Mahdi adalah seorang juru selamat di akhir zaman. Imam  Mahdi diyakini sebagai seorang Muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah SWT untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

‘’Istilah Imam Mahdi muncul dan berhubungan dengan aqidah mahdawiyyah,’’ tulis Ensiklopedi Islam. Yakni, keyakinan bahwa pada akhir zaman akan datang seorang juru selamat yang akan menyelamatkan kehidupan umat manusia di muka bumi dari ketidakadilan, kesengsaraan, dan kekejaman yang akan membawa pada kebahagian dan kedamaian.

John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, mengungkapkan,  Mahdi (orang yang diberi petunjuk ilahiah) merujuk pada figur eskatologis yang akan hadir untuk memimpin pada masa keadilan dan keyakinan sejati menjelang tibanya hari kiamat.

‘’Asal usul kata Mahdi tak ditemukan dalam Alquran, kaum Muslim awal menggunakan gelar kehormatan itu untuk Nabi SAW dan empat khalifah pertama,’’ ujar Esposito. Keyakinan umat Islam akan datangnya Imam Mahdi pada akhir zaman tak lepas dari keberadaan hadis Nabi SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, ’’Dunia akan dipimpin oleh seseorang dari keluargaku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya dunia ini hanya tinggal sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu, sehingga ia akan memimpinnya.’’

Rasulullah juga bersabda, ‘’Al-Mahdi berasal dari keturunanku. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan pemerataan sebagaimana telah dipenuhi oleh kezaliman dan dan ketidakadilan, ia akan berkuasa selama tujuh tahun.’’ (HR At-Tirmizi).


Sumber : Republika.co.id               

Kamis, 17 Mei 2012

Kalah Debat dengan Alquran, Professor Matematika Jeffrey Lang Memeluk Islam

jeffrey lang radar islam

RADAR ISLAM -- Sikap kritisnya terhadap logika keberadaan Tuhan membawanya pada atheisme di usia remaja. Namun, kekalahan logikanya oleh Alquran sepuluh tahun kemudian membimbing profesor Matematika ini pada Islam, agama yang pernah hadir dalam mimpinya.

"Ayah, apakah Tuhan itu benar-benar ada?" Jeffrey Lang kecil bertanya kepada ayahnya saat berjalan-jalan bersama anjing peliharaannya di pantai, sekitar 50 tahun lalu.

Kini, Jeffrey adalah seorang profesor Matematika yang memperoleh gelar master dan doktor dari Purdue University, West Lafayette, Indiana pada 1981. Pertanyaan yang pernah dilontarkannya saat masih kanak-kanak itu kini terjawab sudah. Dosen dan peneliti di Universitas Kansas Amerika Serikat ini menemukannya dalam Islam, 32 tahun lalu.

Lahir pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, Jeffrey dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Katolik Roma. Selama 18 tahun pertama dalam hidupnya, ia belajar di sekolah-sekolah Katolik, di mana ia bertemu pendeta dan teman-teman dari latar belakang agama yang sama.

Hidup di lingkungan Katolik tak begitu saja menjadikan Jeffrey seorang pemeluk agama yang taat. Sikap kritis yang dimilikinya sejak kecil justru menjauhkannya dari agama keluarganya itu. Diskusi-diskusi yang dibangunnya dengan orang tua, pendeta sekolah, dan teman-teman sekolahnya tak pernah berhasil menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tuhan.

“Pada masa itu, aku sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan untuk memperdebatkan hal itu, termasuk dengan pemuka gereja Katolik,’’ tulisnya dalam salah satu buku tentang perjalanannya menemukan Islam.

Menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High, saat usianya 18 tahun, Jeffrey merasa kebuntuan logika tentang Tuhan hanya menyisakan satu pilihan baginya; menjadi atheis. Sang ayah yang marah dengan pilihan Jeffrey berkata, "Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey."

Ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Jeffrey tertunduk dan bersimpuh di hadapan Tuhan pada suatu malam, dalam sebuah mimpi.

Dalam mimpinya, Jeffrey berada di dalam sebuah ruangan kecil yang tenang dan hening. “Tak ada perabot apapun, tidak juga hiasan apapun di dindingnya yang berwarna putih keabuan. Hanya ada karpet bermotif dengan warna dominan merah dan putih menutupi lantai ruangan,” katanya.

Jeffrey menambahkan, dirinya tak sendiri di dalam ruangan itu. Ia dan beberapa orang lainnya berada dalam beberapa barisan. “Aku ada di barisan ketiga. Tak ada perempuan di sana, hanya laki-laki. Kami semua duduk di atas tumit-tumit kami, menghadap sebuah jendela kecil yang membawa cahaya yang terang benderang ke dalam ruangan.”

Jeffrey merasa asing karena tak mengenal siapapun, namun melakukan gerakan ruku’ dan sujud bersama dan seirama. “Tenang sekali, seolah seluruh suara dimatikan,” katanya. Masih dalam mimpinya, di tengah keheningan itu, Jeffrey tersadar bahwa mereka dipimpin seseorang yang berdiri paling depan di bagian tengah ruangan. “Ia berada di sisi kiriku, tepat di tengah ruangan, terpisah dari barisan.”

“Aku hanya sempat melihatnya sekilas, pria itu memakai jubah panjang putih. Di kepalanya terdapat sebuah kain putih dengan motif merah. Saat itulah aku terbangun dari mimpiku.”

Mimpi itu berulang kali menghampiri Jeffrey di sepanjang 10 tahun kehidupan tanpa Tuhan yang dijalaninya. Karena sama sekali tak mengerti, Jeffrey mengabaikannya. Hanya saja, satu hal yang tak dilupakan Jeffrey, “Aku selalu merasa nyaman setiap terbangun dari mimpi aneh itu.”

***
Sepuluh tahun kemudian, di hari pertamanya mengajar di University of San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa Muslim di kelas Matematika yang diampunya. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, Jeffrey telah menjalin pertemanan dengan mahasiswa Muslim itu, juga keluarganya. Keduanya sering berbincang dan berdiskusi, namun tak pernah membahas soal agama.

Hingga pada suatu waktu, salah seorang keluarga mahasiswa Muslim itu memberi Jeffrey sebuah salinan Alquran. Karena tak sedang mencari agama, dan sebagai seorang ateis, Jeffrey membacanya dengan berbagai prasangka di otaknya.

Jeffrey pun segera terlibat dalam apa yang disebutnya pergulatan. “Alquran menyerangku secara langsung dan personal, mengkritik, mempermalukan, dan menantangku. Sejak awal, kitab itu menorehkan garis peperangan, dan aku berada di wilayah yang berseberangan,” katanya.

“Anda tidak bisa hanya membaca Alquran. Tidak akan bisa jika Anda melakukannya dengan serius. Pilihannya (ketika Anda membaca Alquran) adalah, pertama, Anda telah menyerah padanya atau, kedua, Anda menantangnya.”

Jeffrey kewalahan. Ia kebingungan. “Aku menderita kekalahan parah. Karena saat membacanya, sangat jelas kurasakan bahwa Penulisnya (ALLAH SWT) mengetahui tentangku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri,” ujarnya takjub.

Ketakjuban itu bertambah. Ketika Jeffrey memunculkan pertanyaan dan sanggahan baru dalam otaknya setiap selesai membaca Alquran hingga bagian tertentu, ia segera memperoleh jawabannya saat meneruskan bacaannya. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku.”

“Alquran selalu berada jauh di depan pemikiranku. Ia menghapus rintangan yang telah kubangun bertahun-tahun lalu dan menjawab semua pertanyaanku,” katanya. Semakin keras ia mencoba melawan dengan sanggahan dan pertanyaan, semakin jelas ia memperoleh kekalahan dalam pergulatan itu. “Aku dituntun ke sebuah sudut di mana hanya ada satu pilihan.”

***
Tahun 1982, Jeffrey mendapati sejumlah kecil mahasiswa Muslim memanfaatkan sebuah ruangan kecil di basement gereja untuk shalat. Ia memberanikan diri mengunjungi tempat itu pada suatu hari. Setelah beberapa jam di ruangan kecil itu, Jeffrey keluar dengan sebuah identitas baru; Muslim.

Ia telah bersyahadat di sana, beberapa saat menjelang tengah hari. Memasuki waktu Dzuhur ia berbaur dan berdiri dalam barisan bersama para mahasiswa, dipimpin seorang bernama Ghassan. Jeffrey menunaikan shalat pertamanya.

Jeffrey terlarut dalam setiap gerakan shalat yang diikutinya. Saat menyelesaikan gerakan sujud dan melakukan duduk iftirasy, Jeffrey melihat ke arah depan dan melihat Ghassan. “Ia berada di sisi kiriku, di tengah-tengah di depan sana, di bawah jendela yang menghujani ruangan dengan cahaya. Ia terpisah dari barisan, mengenakan jubah putih, dengan selendang putih bermotif merah di kepalanya.”

“Mimpi itu!,” teriaknya dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi, Jeffrey disergap rasa hangat yang mendamaikan hatinya.

Ia berlutut dengan kening menyentuh lantai. Bagian tertinggi raganya yang penuh dengan berbagai pengetahuan dan intelektualitas berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada ALLAH SWT. Pipi Jeffrey basah oleh air mata.

Sumber : http://republika.co.id/